TERITORIAL24.COM, TEBING TINGGI–Dalam pusaran kehidupan dunia yang penuh dengan ambisi, kompetisi, dan pencarian pengaruh, Al-Qur’an memberikan panduan yang jernih tentang siapa yang pantas meraih kenikmatan abadi di akhirat.
Dalam Surah Al-Qashash ayat 83, Allah SWT berfirman:
> “Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa.”(QS. Al-Qashash: 83)
Ayat ini memberikan pesan yang kuat: surga bukanlah balasan bagi mereka yang menjadikan kekuasaan sebagai alat kesombongan atau yang merusak tatanan kehidupan.
Sebaliknya, negeri akhirat adalah warisan bagi jiwa-jiwa yang hidup dalam kerendahan hati dan menjaga bumi dari kerusakan.
Sikap tawadhu (rendah hati) merupakan ciri utama orang beriman.
Dalam banyak ayat dan hadits, Allah dan Rasul-Nya menjanjikan kemuliaan bagi mereka yang tidak menyombongkan diri. Dalam Surah Luqman ayat 18-19, Allah berpesan:
> “Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”(QS. Luqman: 18)
Kesombongan adalah penyakit hati yang dapat menutup pintu kebenaran. Bahkan, Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.”(HR. Muslim)
Islam mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi (QS. Al-Baqarah: 30).
Maka merusak lingkungan, menyebarkan fitnah, korupsi, atau menyulut konflik sosial adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah tersebut.
Allah berfirman:
> “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, setelah (diciptakan) dengan baik, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap…”(QS. Al-A’raf: 56)
Kerusakan (fasad) dalam Islam bukan hanya mencakup kerusakan fisik seperti penebangan liar atau pencemaran.
Tetapi juga mencakup kehancuran moral, sosial, dan ekonomi yang diakibatkan oleh kerakusan manusia.












