TERITORIAL24.COM,TEBING TINGGI – Napas warga Kota Tebing Tinggi tampaknya sedang dipertaruhkan di meja birokrasi.
Belum kering luka akibat banjir besar Desember 2025 yang merendam kota, kini alarm peringatan keras berbunyi dari markas Yayasan Bantuan Hukum Sumatera Timur (YBH-ST) dan Gerakan Masyarakat Adil (GEMA).
Tak mau sekadar menjadi penonton saat pohon-pohon kota bertumbangan, Koordinator Paralegal GEMA, Anjeli, S.H., mengambil langkah taktis.
Ia menugaskan Awaludin untuk menyatroni langsung kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) guna mengantarkan surat pengaduan bernomor 04/Dumas/YBH-ST/I/2026, Kamis (08/01/2026).
Ini bukan sekadar kunjungan silaturahmi, melainkan “tagihan” atas mandat pelestarian lingkungan yang diduga mulai luntur.
Anjeli, S.H.: “Jangan Sampai Aturan Hanya Jadi Pajangan Kantor!”
Dikenal dengan gaya bicaranya yang lugas, Anjeli, S.H. menegaskan bahwa pergerakan ini adalah sinyal bahwa rakyat tidak sedang tidur.
Ia menyoroti fenomena gergaji mesin yang masih bebas beraksi di zona hijau tanpa studi kelayakan yang jelas.
”Kita kirim surat ini bukan untuk mengajak diskusi panjang lebar, tapi menuntut aksi. Pemerintah jangan amnesia, banjir Desember kemarin itu bukan sekadar takdir, tapi akibat dari lingkungan yang diperkosa! Kami minta moratorium penebangan pohon sekarang juga,” tegas Anjeli, S.H.(Rabu 14/1/2026).
Isi Gugatan: Dari Urusan Akar Sampai Kebijakan “Liar”
Dalam surat yang ditandatangani Ketua YBH-ST, Agusri Putra P. Nasution, S.H., terdapat beberapa poin ‘panas’ yang ditujukan kepada Wali Kota cq. Kepala Dinas LH:
* Stop Obral Izin Tebang: Menuntut moratorium penebangan pohon di wilayah hijau publik.
* Hukum Bukan Hiasan: Mempertanyakan nyali DLH dalam mengimplementasikan UU PPLH No. 32/2009 dan Perwa No. 1/2016.
* Audit Kelayakan: Menolak segala bentuk tindakan fisik terhadap lingkungan yang hanya berdasarkan “proyek”, tanpa dasar studi lingkungan yang transparan.
Sarkasme Hijau: Menunggu Banjir atau Menanam Pohon?
Langkah GEMA dan YBH-ST ini seolah menelanjangi pola kerja pemerintah yang seringkali baru sibuk saat bencana sudah tiba.












