Religi

Waspadai Mental Kalkulator dalam Beragama: Keikhlasan Diuji Saat Jalan Terasa Berat

130
×

Waspadai Mental Kalkulator dalam Beragama: Keikhlasan Diuji Saat Jalan Terasa Berat

Sebarkan artikel ini

Oleh: Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A.

Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A., mengajak umat menguatkan keikhlasan dan tetap istiqamah saat jalan ketaatan terasa berat(Ist)

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting, sebab keikhlasan sering kali terlihat ketika tidak ada keuntungan duniawi yang bisa kita peroleh.

Berat di Jalan atau Berat di Hati?

Allah melanjutkan:

وَلَٰكِن بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ

“Tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka.”

Persoalannya bukan sekadar jarak. Ada persoalan hati yang lebih mendasar.

Sebuah perjalanan dapat terasa sangat berat ketika hati tidak memiliki kesungguhan untuk menjalaninya.

Sebaliknya, sesuatu yang berat secara fisik dapat terasa lebih ringan ketika hati dipenuhi keyakinan dan kecintaan kepada Allah.

Karena itu, terkadang yang perlu diperbaiki bukan keadaan di luar diri kita, melainkan keadaan hati di dalam diri kita.

Jalan yang berat belum tentu menjadi alasan untuk berhenti. Bisa jadi, jalan yang berat justru menjadi tempat terbaik untuk menguji keikhlasan.

Waspadai Mental Kalkulator

Ada sikap yang perlu diwaspadai dalam kehidupan seorang Muslim: mental kalkulator dalam beragama.

Semua kebaikan dihitung berdasarkan keuntungan.

Jika mudah, kita mau.

Jika dipuji, kita bersemangat.

Jika mendapatkan penghargaan, kita hadir.

Jika ada keuntungan, kita bergerak.

Namun ketika harus mengorbankan waktu, tenaga, harta, atau kenyamanan, semangat mulai menghilang.

Padahal ketaatan kepada Allah tidak semestinya bergantung pada keuntungan duniawi.

Orang yang ikhlas belajar melakukan kebaikan bukan karena ingin dilihat manusia, melainkan karena meyakini bahwa Allah melihat setiap amal yang dilakukan.

Jangan Gunakan Nama Allah untuk Menutupi Alasan

Allah menggambarkan bagaimana mereka yang tidak ikut kemudian memberikan alasan:

وَسَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ

“Mereka akan bersumpah dengan nama Allah, ‘Jikalau kami sanggup, tentulah kami berangkat bersama kalian.'”

Mereka bahkan membawa nama Allah untuk menguatkan alasan mereka.

Ini menjadi peringatan agar kita tidak sembarangan mengucapkan sumpah atas nama Allah, terlebih jika digunakan untuk menutupi sesuatu yang tidak benar.

Manusia mungkin dapat diyakinkan oleh kata-kata. Alasan mungkin terdengar masuk akal di hadapan manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *