Religi

Waspadai Mental Kalkulator dalam Beragama: Keikhlasan Diuji Saat Jalan Terasa Berat

131
×

Waspadai Mental Kalkulator dalam Beragama: Keikhlasan Diuji Saat Jalan Terasa Berat

Sebarkan artikel ini

Oleh: Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A.

Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A., mengajak umat menguatkan keikhlasan dan tetap istiqamah saat jalan ketaatan terasa berat(Ist)

Namun Allah mengetahui apa yang tersembunyi di balik perkataan dan perbuatan.

Karena itu Allah menegaskan:

وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

“Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.”

Ayat ini mengajarkan satu hal penting: jangan terlalu sibuk meyakinkan manusia jika hati kita sendiri tahu bahwa alasan yang kita sampaikan tidak jujur.

Mukmin Tidak Hanya Taat Saat Mudah

Allah berfirman dalam ayat sebelumnya:

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا

“Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan merasa ringan maupun merasa berat.”(QS. Al-Taubah: 41)

Ayat ini menunjukkan bahwa ketaatan tidak hanya dilakukan ketika kondisi nyaman.

Ada saatnya ringan.

Ada saatnya berat.

Ada saatnya mudah.

Ada saatnya penuh pengorbanan.

Seorang mukmin berusaha tetap berjalan dalam berbagai keadaan.

Di sinilah keistiqamahan diuji: apakah kita tetap melakukan kebaikan ketika kebaikan itu tidak lagi terasa nyaman?

Keikhlasan Terlihat Saat Tidak Ada yang Melihat

Berbuat baik ketika dipuji mungkin terasa mudah.

Membantu ketika nama kita disebut juga tidak terlalu sulit.

Tetapi tetap berbuat baik ketika tidak ada yang melihat, tidak ada yang memuji, bahkan tidak ada yang mengucapkan terima kasih—di situlah hati benar-benar diuji.

Demikian pula dengan amanah.

Tetap bekerja ketika diawasi adalah hal biasa. Tetap bekerja dengan sungguh-sungguh ketika tidak ada yang mengawasi menunjukkan bahwa seseorang menyadari adanya pengawasan Allah.

Manusia mungkin tidak melihat.

Tetapi Allah tidak pernah luput dari setiap perbuatan hamba-Nya.

Jangan Hanya Bertanya, “Apa yang Saya Dapat?”

Dalam kehidupan, manusia sering bertanya:

“Apa yang akan saya dapatkan?”

Pertanyaan tersebut wajar dalam urusan dunia. Namun dalam urusan pengabdian dan kebaikan, ada pertanyaan yang lebih mendasar:

“Apa yang Allah kehendaki dari saya?”

Ketika orientasi hidup hanya kepada keuntungan duniawi, sedikit kekecewaan dapat membuat seseorang berhenti.

Sebaliknya, ketika orientasi utamanya adalah mencari keridaan Allah, seseorang akan berusaha tetap menjalankan amanah meskipun hasilnya belum terlihat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *