Religi

Waspadai Mental Kalkulator dalam Beragama: Keikhlasan Diuji Saat Jalan Terasa Berat

131
×

Waspadai Mental Kalkulator dalam Beragama: Keikhlasan Diuji Saat Jalan Terasa Berat

Sebarkan artikel ini

Oleh: Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A.

Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A., mengajak umat menguatkan keikhlasan dan tetap istiqamah saat jalan ketaatan terasa berat(Ist)

Sebab kewajiban manusia adalah berikhtiar, berbuat baik, dan menaati Allah. Adapun hasil akhirnya berada dalam ketetapan-Nya.

Menjadikan Ayat sebagai Cermin Diri

Surah Al-Taubah ayat 42 bukan sekadar kisah tentang orang-orang pada masa Rasulullah ﷺ. Ayat ini juga mengajak kita bercermin.

Jangan-jangan selama ini kita hanya bersemangat ketika sesuatu itu mudah.

Jangan-jangan kita hanya hadir ketika ada kepentingan.

Jangan-jangan kita hanya membantu ketika mendapatkan apresiasi.

Atau jangan-jangan kita mudah mencari alasan ketika sebuah amanah menuntut pengorbanan.

Karena itu, ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri:

Apakah saya benar-benar ikhlas, atau selama ini saya hanya memilih ketaatan yang nyaman bagi diri saya?

Pertanyaan itu mungkin terasa tajam. Namun muhasabah memang tidak selalu harus membuat kita nyaman. Terkadang hati perlu ditegur agar kembali lurus.

Ketika Jalan Terasa Berat, Tetaplah Melangkah

Allah tidak hanya melihat sejauh mana langkah kita berjalan, tetapi juga untuk siapa langkah itu dilakukan.

Jalan ketaatan tidak selalu mudah. Ada kalanya panjang, melelahkan, dan penuh pengorbanan. Namun jangan menjadikan beratnya jalan sebagai alasan untuk berhenti.

Sebab boleh jadi, ketika jalan terasa berat, di situlah Allah sedang menguji kesungguhan hati kita.

Maka jangan hanya menjadi hamba yang taat ketika keadaan nyaman. Jadilah hamba yang tetap berjalan ketika jalan terasa berat, tetap berbuat baik ketika tidak dipuji, dan tetap istiqamah ketika tidak ada keuntungan dunia yang terlihat.

Karena keikhlasan bukan diuji ketika jalan terasa mudah. Keikhlasan justru diuji ketika jalan terasa berat, tetapi kita tetap memilih untuk berjalan karena Allah.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang ikhlas, jujur, dan istiqamah dalam ketaatan, baik ketika keadaan lapang maupun ketika jalan terasa berat.

Wallahu a’lam bish-shawab.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *