Nasional

22 Kontainer untuk Sumatera, Isyarat Empati Polri di Tengah Bencana

176
×

22 Kontainer untuk Sumatera, Isyarat Empati Polri di Tengah Bencana

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, JAKARTA — Deretan kontainer berwarna kusam itu berbaris rapi di halaman gudang. Di dalamnya, tersimpan beras, makanan siap saji, pakaian, obat-obatan, hingga perlengkapan dasar bagi warga yang kehilangan rumah dan harta benda akibat banjir dan longsor di Sumatera. Sabtu, 14 Februari 2026, bantuan itu resmi dilepas dalam tajuk “Polri untuk Masyarakat”.

Kepolisian Negara Republik Indonesia mengirimkan total 22 kontainer logistik untuk wilayah terdampak di Aceh dan Sumatera Utara.

Sepuluh kontainer dialokasikan untuk Sumatera Utara, sementara dua belas lainnya menuju Aceh. Pengiriman dilakukan bertahap dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Kota Medan dan Kota Bireuen, sebelum didistribusikan ke titik-titik pengungsian.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat, bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera telah menimbulkan korban jiwa, merusak infrastruktur, dan memaksa ratusan ribu warga mengungsi.

Dalam situasi darurat yang memerlukan respons cepat, distribusi logistik menjadi kebutuhan mendesak.

Pelepasan bantuan dipimpin langsung Kapolri Listyo Sigit Prabowo di Medan.

Ia didampingi Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi, jajaran pejabat utama Polri, Kapolda Sumatera Utara, serta Gubernur Sumatera Utara.

Menurut Kapolri, bantuan yang dikirim telah disesuaikan dengan kebutuhan lapangan.

“Kurang lebih 40 ribu masyarakat akan menerima manfaat dari bantuan ini. Harapan kita, ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk terus memedulikan masyarakat yang masih terdampak bencana. Ini juga wujud nyata kehadiran negara,” ujarnya.

Di Kota Bireuen, logistik akan menjangkau kabupaten-kabupaten terdampak di Aceh, seperti Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Tengah, Pidie, Pidie Jaya, Gayo Lues, dan Bener Meriah.

Sementara di Sumatera Utara, distribusi difokuskan pada wilayah yang mengalami banjir dan longsor terparah.

Siti Hediati Hariyadi—yang lebih dikenal sebagai Titiek Soeharto—menyampaikan apresiasi atas langkah Polri.

Ia juga menyinggung peresmian kembali jembatan di Sumatera Barat yang sebelumnya rusak akibat bencana. Infrastruktur yang kembali tersambung, katanya, menjadi penanda dimulainya fase pemulihan ekonomi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *