Kota Medan

45 Ribu Hotspot Menjelang September, Peneliti USU Desak Pemerintah Perkuat Pencegahan Karhutla Berbasis Risiko

103
×

45 Ribu Hotspot Menjelang September, Peneliti USU Desak Pemerintah Perkuat Pencegahan Karhutla Berbasis Risiko

Sebarkan artikel ini

Analisis NASA FIRMS-MODIS mencatat lonjakan tajam aktivitas anomali termal sepanjang Agustus 2026. Kalimantan, Sumatera Selatan, dan Papua Selatan menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih melalui sistem peringatan dini, verifikasi lapangan, dan pengendalian berbasis risiko

Achmad Siddik Thoha ‎Peneliti Kebakaran Hutan dan Lahan Universitas Sumatera Utara(Foto:Angga)

Ia mengingatkan bahwa setiap wilayah memiliki karakter ekologi berbeda sehingga strategi pengendalian tidak dapat diseragamkan.

“Strategi untuk gambut Kalimantan tidak dapat diterapkan begitu saja pada savana Papua Selatan,” katanya.

Masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah rawan juga dinilai harus menjadi bagian penting dari sistem pencegahan.

Kelompok masyarakat peduli api perlu didukung melalui penyediaan informasi risiko harian, sistem komunikasi yang cepat, peralatan dasar, serta mekanisme pelaporan yang terhubung langsung dengan posko pengendalian.

Pada saat bersamaan, kebijakan pencegahan juga perlu memperhatikan faktor ekonomi yang dapat mendorong penggunaan api.

Alternatif penyiapan lahan tanpa bakar, dukungan peralatan, pendampingan, dan insentif, menurut Achmad, perlu berjalan seiring dengan penegakan hukum.

“Larangan tanpa alternatif yang realistis sering kali tidak cukup untuk mengubah praktik di lapangan,” ujarnya.

Data Harus Diubah Menjadi Keputusan

Achmad menilai Indonesia sebenarnya telah memiliki berbagai teknologi yang dapat digunakan untuk memperkuat pencegahan karhutla.

FIRMS menyediakan informasi deteksi anomali termal secara hampir real-time. Citra Sentinel dan Landsat dapat membantu mengidentifikasi bekas area terbakar, sementara informasi cuaca dapat digunakan untuk membaca tingkat kekeringan.

Seluruh informasi tersebut, kata dia, dapat dihubungkan melalui sistem informasi geografis dengan data tutupan dan pengelolaan lahan.

Persoalannya bukan semata-mata pada ketersediaan data, melainkan kemampuan mengubah data tersebut menjadi keputusan sebelum api membesar.

Ia mendorong pemerintah pusat dan daerah memusatkan perhatian pada klaster hotspot yang aktif dan persisten, meningkatkan patroli di wilayah dengan tingkat risiko tinggi, memastikan kesiapan sumber air dan sarana pemadaman, serta melakukan evaluasi harian terhadap perubahan hotspot dan kondisi cuaca.

“Ketika hujan mulai meningkat pada akhir September atau Oktober, perhatian tidak boleh langsung dihentikan karena kebakaran gambut dapat bertahan dan kembali muncul setelah beberapa hari kering,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *