Achmad menyimpulkan bahwa sistem pengendalian karhutla ke depan harus bergerak dari pola reaktif menjadi prediktif.
Bukan sekadar memadamkan api setelah muncul, tetapi mengantisipasi lokasi yang memiliki risiko tinggi sebelum kebakaran berkembang.
Dari sekadar menghitung jumlah hotspot, pemerintah juga didorong untuk mengidentifikasi titik panas yang persisten, memiliki confidence tinggi, dan menunjukkan peningkatan risiko berdasarkan berbagai indikator.
“Indonesia tidak kekurangan teknologi. Tantangan kita adalah mengubah data menjadi keputusan sebelum api membesar,” pungkasnya.***












