TERITORIAL24.COM,MEDAN – Di era modern saat ini, keberhasilan orang tua sering kali diukur dari seberapa besar harta yang mampu diwariskan, setinggi apa pendidikan yang diberikan kepada anak, atau sejauh mana mereka berhasil membangun kemapanan ekonomi keluarga.
Tidak sedikit orang tua yang menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk bekerja demi memastikan masa depan anak-anaknya terjamin secara materi.Semua ikhtiar tersebut tentu merupakan bagian dari tanggung jawab yang mulia.
Namun, Al-Qur’an mengajarkan kepada kita bahwa ada warisan yang nilainya jauh melampaui kekayaan, jabatan, maupun popularitas.
Warisan itu adalah keshalehan. Inilah warisan yang tidak hanya mengiringi seseorang selama hidup di dunia, tetapi juga menjadi sebab turunnya keberkahan Allah kepada anak, cucu, bahkan keturunannya.
Pelajaran agung ini diabadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kisah pertemuan Nabi Musa ‘alaihissalam dengan Nabi Khidir ‘alaihissalam pada Surah Al-Kahfi ayat 60–82.
Kisah tersebut bukan sekadar sejarah, melainkan pendidikan akidah yang mengajarkan manusia agar memahami bahwa di balik setiap ketetapan Allah selalu tersimpan hikmah yang terkadang tidak mampu dijangkau oleh akal manusia.
Salah satu bagian yang paling menyentuh dalam kisah itu adalah ketika Nabi Khidir membangun kembali sebuah tembok yang hampir roboh di sebuah negeri yang penduduknya dikenal enggan memuliakan tamu.
Secara lahiriah, tindakan itu tampak tidak masuk akal. Mengapa membantu orang-orang yang baru saja menolak memberikan jamuan? Bahkan Nabi Musa pun mempertanyakannya.
Namun setelah perjalanan itu berakhir, Nabi Khidir menjelaskan rahasia di balik perbuatannya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Kahfi ayat 82:
“Adapun dinding itu adalah milik dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya tersimpan harta bagi mereka. Sedangkan ayah mereka adalah seorang yang saleh.”
Kalimat ini sangat singkat, tetapi memiliki makna yang luar biasa. Allah tidak menyebut bahwa ayah kedua anak yatim itu seorang yang kaya raya.












