Religi

Keshalehan Orang Tua: Warisan Terbaik yang Menjaga Anak hingga Tujuh Keturunan

239
×

Keshalehan Orang Tua: Warisan Terbaik yang Menjaga Anak hingga Tujuh Keturunan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A.

Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A.** saat menyampaikan ceramah mengenai pentingnya keshalehan orang tua sebagai warisan terbaik yang membawa keberkahan dan perlindungan Allah bagi anak cucu hingga generasi mendatang(Istimewa)

Tidak pula disebut sebagai pemimpin besar, pedagang sukses, atau tokoh yang disegani masyarakat.

Yang Allah abadikan hanyalah satu sifat, “Wa Kāna Abūhumā Ṣāliḥā”. yang berarti, “Dan ayah mereka adalah seorang yang saleh.”

Seolah Allah ingin mengajarkan kepada seluruh orang tua bahwa ukuran kemuliaan di sisi-Nya bukanlah kekayaan, melainkan ketakwaan.

Keberkahan Keshalehan Menjangkau Generasi

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dalil bahwa seorang hamba yang saleh akan memperoleh keberkahan yang tidak berhenti pada dirinya sendiri.

Allah dapat menjaga anak-anaknya, melindungi keturunannya, bahkan mengangkat derajat mereka sebagai buah dari keshalehan orang tuanya.

Diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa kedua anak yatim tersebut dijaga oleh Allah karena keshalehan ayah mereka.

Bahkan dalam sebagian atsar disebutkan bahwa orang saleh tersebut adalah kakek mereka yang ketujuh.

Walaupun riwayat ini diperselisihkan tingkat kekuatannya, para ulama menjadikannya sebagai isyarat tentang luasnya keberkahan amal saleh.

Karena itu para ulama mengatakan, jika ketakwaan seorang leluhur saja dapat menghadirkan manfaat bagi keturunan hingga beberapa generasi, maka tentu keshalehan ayah dan ibu yang mendidik anak-anaknya secara langsung akan memberikan pengaruh yang jauh lebih besar.

Inilah alasan mengapa Islam sangat menekankan pembinaan pribadi sebelum membina keluarga.

Sebab anak-anak tidak hanya mewarisi harta dan nama keluarga, tetapi juga mewarisi nilai, akhlak, dan keberkahan doa dari orang tuanya.

Ketika Musibah Ternyata Adalah Rahmat

Kisah Nabi Khidir juga mengajarkan pelajaran lain yang tidak kalah penting.

Tatkala Nabi Khidir membunuh seorang anak kecil, Nabi Musa sangat terkejut. Secara kasat mata, perbuatan itu tampak sebagai kezaliman.

Namun Allah kemudian menjelaskan bahwa anak tersebut, apabila dibiarkan hidup, kelak akan menjadi penyebab kedua orang tuanya terjerumus ke dalam kesesatan dan kekafiran.

Karena kasih sayang-Nya, Allah mengganti anak tersebut dengan anak yang lebih baik, lebih suci, dan lebih penyayang kepada kedua orang tuanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *