Opini

‎Aktif dan Pasif dalam Hipokritsi: Ketika Kata dan Diam Sama-Sama Berbicara.‎Belajar Memaknai Komunikasi ‎

227
×

‎Aktif dan Pasif dalam Hipokritsi: Ketika Kata dan Diam Sama-Sama Berbicara.‎Belajar Memaknai Komunikasi ‎

Sebarkan artikel ini

‎Oleh : Jufri

Ilustrasi (foto:Al)

‎Diamnya bukan karena tidak tahu. Diamnya bukan karena tidak peduli. Diamnya karena takut kehilangan posisi, relasi, atau kenyamanan.

‎Dalam konteks sosial dan politik, komunikasi pasif hipokritsi sering lebih berbahaya.

Karena ia tampak netral, padahal sebenarnya berpihak. Ia tampak tenang, padahal sedang menjaga kepentingan.

‎Saya jadi teringat sebuah kalimat ketika hampir larut malam berdiskusi dengan seorang sahabat, “tidak ada yang benar-benar untuk kepentingan rakyat.” Kalimat itu terasa getir, seolah-olah semua idealisme hanyalah lapisan luar dari kepentingan yang lebih dalam.

‎Saya tidak sepenuhnya sepakat, tetapi saya memahami kegelisahan di baliknya. Sebab terlalu sering kita menyaksikan narasi “demi rakyat” digunakan sebagai tameng. Rakyat menjadi slogan, bukan tujuan. Kepentingan umum menjadi kata-kata, bukan arah kebijakan.

‎Kalimat itu menyadarkan saya bahwa hipokritsi tidak selalu hadir dalam bentuk kebohongan terang-terangan. Ia bisa hadir dalam klaim yang terdengar mulia.

‎Dan dalam bentuk dua pola atau gaya komunikasi inilah—aktif dan pasif—siapapun bisa saja menjalankannya.

Tidak ada profesi yang kebal. Tidak ada kelompok yang steril. Akademisi, politisi, aktivis, tokoh agama, bahkan kita sebagai warga biasa, memiliki potensi yang sama untuk tergelincir. Karena hipokritsi bukan soal jabatan, tetapi soal integritas.

‎Di Era Siber: Hipokritsi yang Tersistem

‎Ruang digital mempercepat dan memperluas hipokritsi. Algoritma tidak selalu memihak kejujuran; ia sering memihak sensasi dan keberpihakan yang menguntungkan trafik. Orang terdorong untuk mengatakan apa yang disukai audiensnya, bukan apa yang diyakininya.

‎Akibatnya, konsistensi nilai sering kalah oleh konsistensi branding.

‎Ketika setiap orang memiliki panggung, godaan untuk tampil seolah-olah lebih besar daripada dorongan untuk menjadi apa adanya. Hipokritsi tidak lagi sekadar persoalan pribadi, tetapi bisa menjadi pola kolektif yang dipelihara oleh sistem komunikasi itu sendiri.

‎Menjaga Keselarasan

‎Pada akhirnya, ukuran integritas bukan pada seberapa keras kita berbicara, tetapi pada seberapa konsisten kita menjaga keselarasan antara hati, pikiran, dan tindakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *