TERITORIAL24.COM, MEDAN – Langit Medan sore itu berwarna pucat kebiruan. Dari lantai tujuh Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, teropong diarahkan ke ufuk barat.
Di ruangan itulah Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas ikut memantau hilal penentu awal Ramadan 1447 Hijriah, Selasa, 17 Februari 2026.
Pemantauan digelar Pemerintah Kota Medan bekerja sama dengan Observatorium Ilmu Falak UMSU. Sejumlah tokoh agama dan ulama hadir, menyimak proses rukyatul hilal—tradisi yang tiap tahun selalu memantik perbincangan, kadang juga perbedaan.
Di hadapan para hadirin, Rico memilih nada menenangkan. Ia mengingatkan bahwa perbedaan awal puasa bukan hal baru dalam kehidupan beragama di Indonesia. “Kita sudah berpuluh-puluh tahun hidup dalam saling pengertian. Mau mulainya barengan atau berbeda, kita tetap saling menghormati sebagai satu bangsa,” ujarnya.
Baginya, perbedaan metode hisab dan rukyat adalah kekayaan perspektif, bukan alasan untuk berjarak.
Ia mengimbau warga tak menghabiskan energi memperdebatkan teknis penanggalan.
“Yang terpenting bagaimana kita menjalani ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT,” katanya.
Antara Isbat dan Kalender Global
Sehari berselang, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, lewat sidang isbat.
Keputusan itu berbeda dengan maklumat PP Muhammadiyah yang lebih dahulu menetapkan awal puasa pada 18 Februari 2026 menggunakan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Perbedaan tersebut kembali menguji kedewasaan publik dalam menyikapi otoritas keagamaan.
Di Medan, Rico berharap dinamika itu tak menjalar menjadi friksi sosial. Pemerintah kota, kata dia, berdiri pada posisi menjaga harmoni.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Medan Impun Siregar dan Ketua MUI Kota Medan Hasan Matsum turut hadir dalam pemantauan hilal.
Rektor UMSU Agussani juga mendampingi proses rukyat di observatorium yang disebut-sebut sebagai salah satu fasilitas falak terbaik di Indonesia.












