Religi

Bukan Menang-Kalah, Ini Strategi Rasulullah SAW Menyelesaikan Konflik

172
×

Bukan Menang-Kalah, Ini Strategi Rasulullah SAW Menyelesaikan Konflik

Sebarkan artikel ini

Oleh: Assoc.Prof.Dr.H. Usman Jakfar, Lc., M.A.

Assoc.Prof.Dr.H. Usman Jakfar, Lc., M.A., mengajak umat meneladani Rasulullah SAW dalam mengelola konflik dengan bijaksana(Ist)

Dalam sejumlah peristiwa penting, Rasulullah SAW melibatkan para sahabat untuk menyampaikan pendapat dan pertimbangan.

Peristiwa menjelang Perang Badar menjadi salah satu contoh bagaimana pendapat para sahabat mendapatkan ruang dalam pengambilan keputusan.

Musyawarah menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu berarti berbicara paling banyak, tetapi juga mampu mendengar dengan baik.

Dalam kehidupan sehari-hari, dialog dapat menjadi jembatan ketika hubungan mulai retak.

Pihak yang sedang berselisih perlu diberikan ruang untuk berbicara, mendengar dan memahami satu sama lain.

Dengan demikian, persoalan tidak berhenti pada saling menyalahkan, tetapi bergerak menuju pencarian solusi.

Orang akan lebih mudah menerima sebuah keputusan ketika mereka merasa dihargai dalam prosesnya.

Mencari Titik Temu, Bukan Sekadar Mencari Kemenangan

Salah satu teladan penting Rasulullah SAW dalam mengelola konflik dapat dilihat dari Perjanjian Hudaibiyah.

Secara sepintas, sejumlah ketentuan perjanjian tersebut tampak berat bagi kaum Muslimin. Namun, Rasulullah SAW melihat persoalan secara lebih jauh.

Perdamaian membuka ruang bagi masyarakat untuk berinteraksi tanpa peperangan.

Kondisi tersebut kemudian memberikan kesempatan yang lebih luas bagi dakwah dan perkembangan masyarakat Islam.

Dari sini terdapat pelajaran besar: tidak setiap sikap mengalah berarti kalah.

Terkadang seseorang harus bersedia menahan ego dan menerima kesepakatan tertentu demi kemaslahatan yang lebih besar.

Dalam konflik, kemenangan yang hanya memuaskan ego dapat meninggalkan luka. Sebaliknya, solusi yang mampu menjaga hubungan dan membuka peluang kebaikan jangka panjang jauh lebih bernilai.

Memisahkan Kesalahan dari Pribadi

Rasulullah SAW juga memberikan teladan dalam memperlakukan orang yang melakukan kesalahan.

Kesalahan perlu dikoreksi, tetapi seseorang tidak semestinya terus-menerus dikunci dalam label kesalahannya.

Inilah pentingnya membedakan antara menolak sebuah perbuatan dengan membenci manusia yang melakukan perbuatan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *