Profil - Sosok

Di Balik Pengibaran Merah Putih, Ruwaida Sinaga Temukan Kehangatan Keluarga di Tanah Rantau

188
×

Di Balik Pengibaran Merah Putih, Ruwaida Sinaga Temukan Kehangatan Keluarga di Tanah Rantau

Sebarkan artikel ini

Marga Sinaga mempertemukan Ruwaida dengan seorang ibu di Desa Rambah Jaya. Sapaan “Bou” dan perhatian sederhana menjadi kenangan haru selama menjalani KKN di Rokan Hulu.

Ruwaida Sinaga merupakan salah satu mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang ditempatkan di Desa Rambah Jaya.Pada momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI,ia dipercaya menjadi salah satu petugas pengibar bendera(Istimewa)

“Saya benar-benar tidak menyangka. Awalnya saya hanya mengucapkan terima kasih karena beliau sudah memberikan perhatian dan doa kepada saya. Tetapi yang membuat saya semakin terharu adalah ketika beliau meminta saya memanggilnya ‘Bou’,” ujar Ruwaida, Senin(17/8/2026)

Dipanggil “Bou”, Merasa Seperti Bertemu Keluarga

Dalam tradisi Batak, sapaan “Bou” bukan sekadar panggilan biasa. Sapaan tersebut lekat dengan nuansa kekeluargaan, kasih sayang, penghormatan, dan kedekatan hubungan.

Bagi Ruwaida yang sedang menjalani KKN jauh dari keluarga, sapaan tersebut menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan.

“Sebagai mahasiswa yang sedang berada di tanah rantau, tentu ada rasa rindu kepada keluarga. Ketika beliau meminta saya memanggilnya Bou, saya merasa seperti bertemu keluarga sendiri. Rasanya sangat hangat,” ungkapnya.

Momen itu semakin mengharukan ketika sang Bou kembali menyampaikan pesan kepada Ruwaida.

“Jangan lupa datang ke rumah Bou. Pintu rumah Bou selalu terbuka untuk Ruwaida,” ucapnya.

Kalimat sederhana tersebut begitu membekas bagi Ruwaida.

Di tengah kesibukannya menjalani program KKN dan berada jauh dari keluarga, ia menemukan sosok yang dengan tulus membuka pintu persaudaraan tanpa memandang jarak maupun latar belakang.

“Saya sangat bersyukur mendapatkan pengalaman seperti ini. Saya tidak menyangka dari tugas mengibarkan bendera, saya mendapatkan sebuah kenangan dan keluarga baru di tanah rantau,” katanya.

Dari Upacara Kemerdekaan Menjadi Kisah Persaudaraan

Bagi Ruwaida, pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian paling berkesan selama menjalani KKN di Desa Rambah Jaya.

Ia tidak hanya mendapatkan pengalaman menjalankan tugas dalam upacara kenegaraan, tetapi juga belajar bahwa nilai persaudaraan dapat tumbuh dari hal-hal sederhana.

“Bagi saya, ini bukan tentang uang yang diberikan, tetapi tentang perhatian dan rasa kekeluargaan yang saya terima. Saya merasa diterima di sini. Semoga hubungan ini tetap terjalin dan menjadi persaudaraan yang baik,” ujar Ruwaida.»

Kisah Ruwaida menjadi gambaran bahwa semangat kemerdekaan tidak hanya tercermin melalui upacara, pengibaran bendera, maupun penghormatan kepada jasa para pahlawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *