Misteritorial

Gamelan Tengah Malam Dari Kuburan Ronggeng

743
×

Gamelan Tengah Malam Dari Kuburan Ronggeng

Sebarkan artikel ini

Kisah Tragis Rombongan Penari Ronggeng Dibegal di Kebun Rambung Tanah Raja

MISTERITORIAL – Angin malam menyapu pelan daun-daun kering di kebun rambung yang menghampar luas di Tanah Raja – sekarang masuk wilayah administratif Desa Tanah Raja, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai.

Langit kelam tanpa bintang, seolah turut berkabung atas sebuah tragedi lama yang masih meninggalkan jejak tak kasat mata. Malam itu, satu abad silam, sembilan penari ronggeng yang baru saja menyelesaikan pementasan gemilang di pesta perkawinan harus menjalani malam terakhir dalam hidup mereka—dengan cara yang begitu mengenaskan.

 

Rombongan itu terdiri dari wanita-wanita muda berparas rupawan, gemulai, dan menawan. Mereka menaiki sebuah andong tua yang dikendalikan oleh seorang sais tua bernama Pak Samin. Dentingan lelah dari lonceng kecil di leher kuda seolah menjadi alunan terakhir dari kehidupan yang segera direnggut maut.

 

Di tengah perjalanan melintasi kebun rambung, suasana ceria berubah menjadi mencekam. Ningsih Ayu, Nama kelompok ronggeng, tiba-tiba mereka para wanita ayu itu merasakan hawa dingin menusuk tulang.

Mereka

 

memandangi sekeliling, tetapi hanya kegelapan yang menjawab. Lampu minyak di andong bergetar oleh angin, menciptakan bayangan-bayangan aneh di antara batang karet.

 

Tiba-tiba, dari balik pepohonan, muncul belasan sosok bersenjata tajam—klewang, golok, dan

sebilaha parang karatan. Mata mereka merah menyala, entah karena nafsu atau amarah. Pimpinan begal, seorang pria tinggi besar bertato ular, mengacungkan senjata ke arah rombongan.

 

“Jangan bergerak!” hardiknya dengan suara berat yang membelah malam.

 

Sembilan penari, termasuk pimpinan Ronggeng Ayu Srivina—gadis manis dari Jawa Tengah yang dikenal dengan mata lentiknya—hanya bisa membeku.

Mereka ditarik turun, satu per satu. Hutan sunyi menjadi saksi bisu kekejaman yang sulit dibayangkan. Teriakan mereka lenyap ditelan pekatnya malam dan lebatnya kebun karet.

 

Mereka dirudapaksa, lalu dibunuh secara keji. Leher mereka dicekik menggunakan selendang sutra yang biasa digunakan untuk menari. Pak Samin, sang sais andong, juga tak luput dari nasib buruk. Tubuh renta itu ditemukan tergantung di atas dahan karet, dengan mata membelalak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *