TERITORIAL24.COM,SERDANG BEDAGAI-Harapan untuk sembuh justru berujung maut.Itulah kisah pilu yang kini menyelimuti keluarga Imelda Sabatini Sihombing.
Gadis muda peserta BPJS Kesehatan yang menghembuskan napas terakhir usai menjalani perawatan di RSUD Sultan Sulaiman, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai).
Datang dengan keluhan sakit perut, Imelda hanya ingin kembali sehat. Namun takdir berkata lain.
Ia pulang dalam peti jenazah, meninggalkan duka mendalam dan tanda tanya besar: apakah ini sekadar musibah, atau ada kelalaian medis di balik kematiannya?
Sang ibu, Ana R. Aruan, tak kuasa menahan tangis saat menceritakan kembali hari-hari terakhir putrinya.
“Kami cuma mau anak kami diperlakukan manusiawi. Jangan ada lagi korban seperti Imelda,” ujarnya dengan suara parau, Kamis (9/10).
Kini, keluarga yang berduka itu menuntut keadilan. Didampingi kuasa hukumnya, Zainul Arifin Hasibuan, SH.I.
Mereka resmi melaporkan dugaan kelalaian medis RSUD Sultan Sulaiman ke Polda Sumatera Utara.
Laporan tersebut telah teregister dengan Nomor: LP/B/1650/X/2025/SPKT/POLDA SUMATERA UTARA, tertanggal 9 Oktober 2025.
Pelapor adalah Ana R. Aruan (45), ibu kandung korban, warga Dusun IV, Desa Gempolan, Kecamatan Sei Bamban, Kabupaten Serdang Bedagai.
Kronologi: Operasi Usus Buntu Berujung Maut
Kasus bermula pada 28 Agustus 2025, ketika Imelda dilarikan ke UGD RSUD Sultan Sulaiman karena keluhan sakit perut.

Dokter mendiagnosisnya mengalami gangguan pencernaan (sembelit) dan kemudian dirawat inap.
Empat hari kemudian, tim medis memutuskan operasi usus buntu.
Namun, enam hari pascaoperasi, tidak ada pemeriksaan lanjutan dari dokter bedah yang menangani, sementara kondisi pasien terus memburuk.
Keluarga mengaku sudah berulang kali meminta perhatian tenaga medis, namun tak mendapat tanggapan memadai.
Puncaknya terjadi pada Sabtu malam, ketika perut Imelda membengkak parah dan ia mulai kesulitan bernapas.
Petugas medis memasang selang di hidung untuk mengeluarkan lendir, tapi tak lama kemudian terjadi pendarahan hebat dari dubur.












