Jika menelusuri peta peninggalan Belanda, kawasan tersebut dahulu tercatat sebagai Kampung Semarang.
Namun seiring perjalanan waktu, nama Kampung Semarang berubah dan kini lebih dikenal dengan nama lain.
Di Tebing Tinggi, KH Dja’far Semarang menikah dengan Puang Tongah Br Saragih Garingging yang merupakan putri keturunan Raja Raya.
Dari pernikahan tersebut lahirlah keturunan yang kemudian berkembang hingga generasi ke-7 dan ke-8 saat ini.
Menariknya, pendiri Kota Tebing Tinggi, Datok Bandar Kajum, merupakan menantu KH Dja’far Semarang setelah menikahi putrinya yang bernama Fatimah, yang di lingkungan keluarga lebih dikenal dengan sebutan Nenek Semarang. Dari garis keturunan ini lahir generasi yang menyandang gelar Datuk Punggawa.
Salah satu peninggalan bersejarah KH Dja’far Semarang yang masih terawat hingga kini adalah sebuah pedang pusaka.
Pedang tersebut saat ini masih disimpan oleh salah seorang keturunannya sebagai warisan keluarga yang memiliki nilai sejarah penting.
Tradisi Kuliner Bubur Merah Putih di Bulan Syuro
Acara haul diakhiri dengan tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz Legimin, S.Pd.I., yang dipandu pembawa acara Budi Dermawan di bawah koordinasi panitia Syahril dan Ramli Sopyan, S.S.Pd.I. Setelah doa bersama, seluruh keluarga menikmati hidangan dan bersilaturahmi hingga waktu Asar.
Dalam pertemuan tersebut juga disajikan bubur merah putih yang menjadi kuliner tradisional turun-temurun keluarga setiap memasuki bulan Syuro atau Muharram.
Hidangan ini menjadi simbol rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus perekat kebersamaan seluruh rumpun keluarga yang hadir.
Melalui pelaksanaan Haul ke-4 ini, keluarga besar KH Dja’far Semarang berharap nilai-nilai perjuangan, dakwah, persaudaraan, dan warisan sejarah leluhur dapat terus dijaga serta diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya.***












