Kepala SMKN 1 Solok Selatan, Surya Hendra, S.Pd, menyatakan bahwa PKK merupakan ruang pembentukan karakter siswa—bukan hanya pembelajaran kewirausahaan.
“Di sini mereka belajar disiplin, kerja sama, inovasi, dan menghargai potensi daerah. Bijar yang sederhana kini memiliki nilai tambah dan menjadi kebanggaan sekolah,” ungkapnya.
Dukungan juga mengalir dari masyarakat dan orang tua yang bangga melihat kreativitas anak-anak daerah.
Produk SKANSASS SYARUGA mulai dikenal karena rasanya yang unik serta nilai kultural yang terkandung. Ubi jalar yang selama ini dianggap bahan pangan sederhana kini berubah menjadi produk bernilai ekonomi dan edukatif.
Di dapur sekolah hari itu, tawa para siswa berpadu dengan bunyi penggorengan dan alat produksi. Para guru berdiri bangga, sementara Mario Syah Johan tampak tersenyum melihat semangat mereka.
Sebuah gambaran kuat bahwa masa depan ekonomi kreatif di Solok Selatan bisa tumbuh dari ruang praktik sederhana, melalui tangan-tangan muda yang tidak pernah lelah berusaha.
Di tangan siswa SMKN 1 Solok Selatan Provinsi Sumatera Barat, bijar bukan lagi sekadar ubi jalar—tetapi simbol kreativitas, inovasi, dan masa depan kuliner lokal yang penuh harapan. (Dioni)












