Politik

Malam Kemerdekaan, PKS Tebing Tinggi Hidupkan Kembali Ikon Kota Lemang

127
×

Malam Kemerdekaan, PKS Tebing Tinggi Hidupkan Kembali Ikon Kota Lemang

Sebarkan artikel ini

Bakar lemang dan ikan bersama menjadi momentum mempererat silaturahmi, konsolidasi kader, sekaligus merawat identitas kuliner Kota Tebing Tinggi.

Merayakan Kemerdekaan dengan Tradisi dan Kebersamaan: PKS Tebing Tinggi Sukses Gelar Bakar Lemang dan Ikan(Ist)

TERITORIAL24.COM,TEBING TINGGI – Malam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dimanfaatkan DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Tebing Tinggi untuk memperkuat silaturahmi, konsolidasi kader, sekaligus menghidupkan kembali semangat melestarikan ikon kuliner daerah.

Kegiatan yang digelar pada malam 17 Agustus 2026 tersebut dikemas sederhana namun penuh keakraban.

Pengurus, kader, simpatisan, serta masyarakat yang hadir mengikuti rangkaian kegiatan berupa silaturahmi, tausiah, bakar ikan dan bakar lemang bersama.

Ketua DPD PKS Kota Tebing Tinggi, Anda Yasser Albantani, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum istimewa karena untuk pertama kalinya malam 17-an di lingkungan PKS Tebing Tinggi dikemas dengan konsep kebersamaan seperti itu.

“Malam ini adalah malam yang bersejarah karena baru pertama kali kegiatan malam 17-an dibuat seperti ini. Selain mengokohkan silaturahmi, kita juga menanamkan rasa persaudaraan yang kuat dengan kegiatan makan ikan bakar dan lemang bersama,” ujar Anda Yasser.

Bakar Lemang, Rawat Identitas Kota

Menurut Anda Yasser, ada hal yang sengaja dibuat berbeda dalam kegiatan tersebut.

Jika bakar ikan merupakan aktivitas yang cukup umum dilakukan masyarakat, DPD PKS Tebing Tinggi memilih menghadirkan tradisi bakar lemang sebagai bagian dari upaya menjaga identitas lokal.

Lemang, kata dia, bukan sekadar makanan tradisional, tetapi telah melekat dengan identitas Kota Tebing Tinggi yang dikenal luas sebagai Kota Lemang.

“Kalau bakar ikan sudah hal biasa dilakukan di mana-mana. Yang agak unik, kita malam ini bakar lemang dengan bambu hasil tanaman sendiri. Kita juga ingin membudayakan dan menguatkan ikon Kota Lemang agar jangan sampai pudar,” katanya.

Ia menyebut tradisi lemang telah berkembang di Kota Tebing Tinggi sejak 1958 dan tidak terlepas dari keberadaan masyarakat Minang yang menetap di kota tersebut.

Karena itu, menjaga eksistensi lemang dinilai bukan hanya soal mempertahankan kuliner tradisional, tetapi juga merawat warisan dan identitas budaya Kota Tebing Tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *