Politik

Malam Kemerdekaan, PKS Tebing Tinggi Hidupkan Kembali Ikon Kota Lemang

166
×

Malam Kemerdekaan, PKS Tebing Tinggi Hidupkan Kembali Ikon Kota Lemang

Sebarkan artikel ini

Bakar lemang dan ikan bersama menjadi momentum mempererat silaturahmi, konsolidasi kader, sekaligus merawat identitas kuliner Kota Tebing Tinggi.

Merayakan Kemerdekaan dengan Tradisi dan Kebersamaan: PKS Tebing Tinggi Sukses Gelar Bakar Lemang dan Ikan(Ist)

Dari Kolam Sendiri untuk Ketahanan Pangan

Tidak hanya lemang, ikan yang dibakar dalam kegiatan tersebut juga memiliki cerita tersendiri.

Sebagian ikan yang disiapkan untuk acara makan bersama merupakan ikan yang dipelihara sendiri dan telah dibudidayakan selama sekitar tiga bulan.

Bagi DPD PKS Tebing Tinggi, hal tersebut menjadi contoh sederhana bahwa semangat ketahanan pangan dapat dimulai dari lingkungan sendiri.

“Ikan yang kita bakar dan makan sebagian adalah ikan yang kita pelihara sendiri selama tiga bulan. Ini juga dalam rangka ketahanan pangan,” ujar Anda Yasser.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan karena kegiatan kemerdekaan tidak hanya diisi dengan seremoni, tetapi juga dengan aktivitas yang mendorong kemandirian dan pemanfaatan potensi yang ada.

Tausiah dan Konsolidasi Kader

Sebelum makan bersama, kegiatan diisi dengan tausiah yang disampaikan Ustadz Saiful Ali Sofi. Tausiah menjadi bagian dari rangkaian acara untuk memberikan penguatan nilai keagamaan sekaligus mempererat hubungan antarkader dan simpatisan.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Umum DPD PKS Tebing Tinggi Hendri Syahputra, jajaran pengurus bidang, pengurus DPC dan ranting, kader serta simpatisan.

Suasana berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Pengurus, kader dan simpatisan duduk bersama menikmati ikan bakar dan lemang dalam suasana yang mencerminkan semangat kebersamaan.

Bagi DPD PKS Tebing Tinggi, malam kemerdekaan tersebut menjadi momentum untuk merajut tiga hal sekaligus, yakni memperkuat persaudaraan, mengokohkan konsolidasi organisasi, dan merawat identitas budaya lokal.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan makan bersama dan berakhir sekitar pukul 23.00 WIB.

Malam 17 Agustus itu pun tidak sekadar menjadi perayaan kemerdekaan. Di tengah kepulan asap pembakaran ikan dan lemang, terselip pesan bahwa semangat kemerdekaan juga dapat diwujudkan melalui kebersamaan, kemandirian pangan, serta kepedulian menjaga warisan budaya daerah.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *