Aktivis dan Warga Bertanya Keras: “Di Mana Nurani Pejabat?”
Gelombang kritik di media sosial semakin keras. Banyak yang menilai tindakan ini sebagai cermin buruknya kepemimpinan dan rapuhnya sense of crisis.
Komentar publik bermunculan:
“Orang lain sibuk mencari mayat keluarganya, mereka sibuk cari proyektor di hotel.”
“Bencana bukan jeda untuk agenda seremonial.”
“Ini bukan soal APBD, ini soal empati.”
Para relawan di lapangan menyebut keputusan ini sebagai tamparan bagi mereka yang sudah berhari-hari berjibaku di sungai dan lumpur.
Momentum Kelam yang Harus Diingat: Jabatan Tidak Boleh Membutakan Nurani
Kasus ini memperjelas satu hal:
Sumatera Barat tidak hanya diterjang banjir dan longsor, tetapi juga diterjang krisis kepemimpinan.
Ketika rakyat berjuang bertahan hidup, para pejabat seharusnya berada di garis terdepan membantu, bukan di ruang AC hotel membahas agenda yang bisa ditunda.
Peristiwa ini harus menjadi alarm keras bagi birokrasi Sumbar:
kepekaan, empati, dan prioritas jauh lebih penting daripada sekadar menjalankan kegiatan yang sudah “masuk anggaran”.
Warga kini menunggu langkah nyata — bukan alasan — untuk memulihkan kepercayaan yang sudah terkoyak.(Dioni)












