TERITORIAL24.COM,JAKARTA – Harga diri bangsa bukan komoditas konten! Ketua Umum Asosiasi Keluarga Pers Indonesia (AKPERSI), Rino Triyono, mendadak “ngegas” menanggapi aksi niretik Bonnie Blue yang diduga kuat telah melecehkan Sang Saka Merah Putih.
Tak sekadar mengecam, AKPERSI menuntut aksi nyata dari para diplomat di menara gading kedutaan.
Rino Triyono menegaskan bahwa Bendera Merah Putih bukan sekadar kain dua warna, melainkan manifestasi kedaulatan yang dibayar dengan darah pahlawan.
”Bendera kita itu dilindungi Undang-Undang, bukan properti sirkus untuk cari sensasi! Siapa pun yang berani merendahkannya, berarti dia sedang menantang martabat seluruh rakyat Indonesia,” tegas Rino dengan nada lugas dan tanpa basa-basi.
Bukan AKPERSI namanya jika tidak melontarkan sentilan tajam. Rino secara khusus “menyolek” Duta Besar RI di tempat Bonnie Blue bermukim agar tidak hanya menjadi penonton dalam drama pelecehan ini.
”Kami mendesak Dubes RI: Jangan diam saja! Perwakilan negara digaji untuk menjaga kehormatan bangsa. Segera ambil tindakan diplomatik dan hukum. Tunjukkan kalau Indonesia punya taring saat simbol negaranya dipermainkan!” seru Rino.
Bagi AKPERSI, permintaan maaf di media sosial tidaklah cukup. Jika ada unsur kesengajaan, jalur hukum adalah harga mati.
Rino mendorong Kementerian Luar Negeri untuk berhenti bersikap terlalu “santun” dan mulai berkoordinasi dengan otoritas setempat demi kejelasan hukum.
”Negara tidak boleh kalah oleh konten kreator provokatif yang cuma modal nekat demi engagement. Jangan biarkan simbol kebangsaan kita jadi bahan tertawaan internasional,” tambahnya.
Menutup pernyataannya yang berapi-api, Rino mengingatkan rekan-rekan pers nasional untuk tetap berada di garis nasionalisme.
Pers harus menjadi kontrol sosial yang cerdas—mengawal kasus ini hingga tuntas tanpa harus terjebak dalam pusaran sensasi murah.
AKPERSI bahkan menyatakan siap pasang badan untuk melakukan langkah advokasi dan laporan resmi jika pihak-pihak terkait masih menunjukkan respon yang “adem ayem”.***












