Kota Medan

“Samudera” dan Mimpi Besar Industri Kreatif Medan

225
×

“Samudera” dan Mimpi Besar Industri Kreatif Medan

Sebarkan artikel ini

Optimisme itu tidak berlebihan. Medan selama ini dikenal sebagai kota multikultural dengan kekayaan etnis, tradisi, dan karakter masyarakat yang beragam. Potensi tersebut menjadi sumber cerita yang nyaris tak pernah habis.

Karena itu, Rico berharap Samudera menjadi titik awal bagi lahirnya lebih banyak karya kreatif dari Medan, tidak hanya di bidang perfilman tetapi juga musik dan seni pertunjukan.

“Saya rasa ini menjadi awal yang baik agar nantinya Kota Medan bisa memproduksi film-film ataupun musik-musik yang diinisiasi dan diawali dari talenta asli kota ini,” ujarnya.

Di balik layar, sutradara Egi Fauzi Fahreza ternyata menyimpan misi yang lebih besar. Ia menegaskan bahwa Samudera tidak dibuat semata-mata untuk menghibur penonton.

Film tersebut membawa pesan tentang kerusakan lingkungan pesisir sekaligus upaya pelestarian budaya Melayu Sumatera Utara. Keduanya menjadi tema yang sengaja dirajut dalam alur cerita.

Egi mengaku ide itu muncul setelah melihat langsung kerusakan ekosistem laut di kawasan Mandailing Natal.

Hamparan terumbu karang yang rusak akibat aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan meninggalkan kesan mendalam baginya.

“Kami menyaksikan sendiri terumbu karang yang luasnya berhektar-hektar hancur akibat keserakahan manusia yang menggunakan pukat trawl. Padahal, terumbu karang adalah rumah bagi bibit-bibit ikan,” tuturnya.

Selain menyuarakan isu lingkungan, film ini juga memuat pesan sosial yang ditujukan kepada generasi muda.

Melalui perjalanan para tokohnya, Samudera mengajak pemuda menjauhi narkoba, memperbaiki akhlak, serta berkontribusi membangun daerahnya masing-masing.

Dengan perpaduan isu lingkungan, budaya, dan pesan sosial, Samudera hadir bukan hanya sebagai karya sinematik, melainkan juga ruang refleksi.

Bagi Pemerintah Kota Medan, film ini bahkan menjadi simbol bahwa industri kreatif daerah mampu tumbuh dan berbicara dengan identitasnya sendiri.

Jika harapan itu terjaga, maka Samudera mungkin akan dikenang bukan hanya sebagai sebuah film, melainkan sebagai titik awal kebangkitan ekosistem kreatif Kota Medan.(Akbar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *