Rico menanggapi satu per satu. Ia memastikan seluruh aduan dicatat dan segera ditindaklanjuti.
Untuk persoalan di Sungai Babura, ia menyebut akan berkoordinasi dengan Badan Wilayah Sungai (BWS) Medan dan menurunkan alat berat dari dinas SDABMBK guna membersihkan batang kayu serta sampah yang menyumbat aliran.
Di hadapan warga, ia juga menyinggung pentingnya disiplin kolektif. Sungai, katanya, tak hanya bergantung pada intervensi pemerintah.
“Saya mengingatkan masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan yang dapat memperparah penyumbatan aliran sungai,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Rico mengungkapkan baru saja menghadiri undangan dari Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Sosial, dan Kementerian PAN-RB terkait penyaluran bantuan sosial.
Ia memastikan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil serta Dinas Sosial Kota Medan akan terus berkoordinasi agar bantuan benar-benar tepat sasaran.
Program sapa warga, di tengah dinamika kota yang terus bertumbuh, menjadi uji konsistensi: seberapa cepat pemerintah merespons, dan seberapa tepat solusi menjawab kebutuhan.
Pagi itu ditutup dengan penanaman pohon di bantaran Sungai Babura—sebuah simbol sederhana tentang perawatan ruang hidup yang, jika diabaikan, selalu kembali menjadi persoalan.
Bagi Rico Waas, menyusuri sungai dan duduk bersama warga bukan sekadar agenda akhir pekan. Ia adalah cara memastikan bahwa jarak antara keluhan dan kebijakan tak lagi terlalu jauh.(Anggi)












