Bisnis dan Teknologi

Sumut Mau Pakai AI Buat Bertani, Tapi Jangan Sampai yang Pintar Cuma Mesinnya

327
×

Sumut Mau Pakai AI Buat Bertani, Tapi Jangan Sampai yang Pintar Cuma Mesinnya

Sebarkan artikel ini

Kalau diibaratkan, kainnya sudah ada, benangnya sudah siap, tukang jahitnya pun sudah berdiri di depan mesin. Tinggal pertanyaannya: pola jahitannya rapi nggak? Dan yang lebih penting, siapa yang nanti merawat baju ini setelah jadi?

Masalah klasik pembangunan teknologi di daerah sering bukan di alatnya, tapi di keberlanjutannya. Banyak program keren yang launching-nya megah, fotonya estetik, tapi setahun kemudian login saja sudah lupa password.

Di sinilah peringatan soal SDM dan kebijakan jadi relevan. Tanpa pelatihan berkelanjutan untuk petani dan penyuluh, tanpa regulasi yang jelas dan dukungan anggaran yang konsisten, AI bisa berubah dari “Artificial Intelligence” jadi “Angan-angan Indah”.

Rapat virtual itu juga dihadiri Sekjen Kementerian Pertanian Suwandi, jajaran DEN, para bupati se-Sumut, OPD Pemprov Sumut, serta peneliti TSTH 2.

Artinya, secara birokrasi, ini bukan proyek ecek-ecek. Semua level sudah diajak duduk bareng.

Sekarang tinggal pembuktiannya. Kalau AI benar-benar bisa bantu petani menentukan waktu tanam yang tepat, mengantisipasi gagal panen, dan meningkatkan produksi, ini bisa jadi lompatan penting.

Tapi kalau cuma berhenti di pilot project yang cantik di atas kertas, ya paling-paling AI cuma jadi bahan presentasi PowerPoint di rapat berikutnya.

Yang jelas, bertani di era sekarang memang nggak cukup cuma modal cangkul dan doa.

Data, teknologi, dan manusia yang paham cara memakainya harus jalan bareng.

Jangan sampai yang makin pintar cuma mesinnya, sementara manusianya masih bingung pencet tombol mana.(Anggi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *