Bisnis dan Teknologi

Sumut Mau Pakai AI Buat Bertani, Tapi Jangan Sampai yang Pintar Cuma Mesinnya

157
×

Sumut Mau Pakai AI Buat Bertani, Tapi Jangan Sampai yang Pintar Cuma Mesinnya

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, MEDAN — Kalau selama ini yang akrab dengan Artificial Intelligence (AI) itu anak startup, buzzer kripto, atau mahasiswa yang lagi skripsi, sekarang giliran petani Sumatera Utara yang diajak kenalan. Pemerintah Provinsi Sumut bareng Dewan Ekonomi Nasional (DEN) lagi merumuskan pemanfaatan AI buat tata kelola pertanian. Cita-citanya nggak main-main: modernisasi sektor pertanian dan dongkrak produksi lebih masif.

Gubernur Sumut, Muhammad Bobby Afif Nasution, alias Bobby Nasution, bilang teknologi secanggih apa pun nggak bakal ada gunanya kalau manusianya nggak siap.

Dalam rapat virtual bareng DEN dari kediamannya di Komplek Tasbih, Medan, Senin (23/2/2026), Bobby mengingatkan satu hal krusial: jangan cuma beli alat, tapi lupa upgrade orangnya.

“Perlunya penguatan sistem digital, bukan hanya alat saja, tetapi SDM yang menggunakan, kemudian dukungan kebijakan yang tepat,” kira-kira begitu pesannya.

Dan di sinilah letak dramanya. Kita ini sering terpesona pada kata “AI” seolah-olah begitu sistem dipasang, sawah langsung auto-subur dan padi panen sendiri. Padahal AI itu ya tetap butuh data. Kalau data yang dimasukkan asal-asalan—misalnya curah hujan dicatat pakai feeling atau hama diidentifikasi pakai firasat—ya hasilnya juga bakal ngawur.

Menurut Bobby, makin mumpuni kemampuan pengguna, makin akurat juga AI dalam bekerja. Sistem ini digadang-gadang bisa memprediksi curah hujan, menentukan waktu tanam dan panen, menganalisis hama lengkap dengan cara penanganannya, sampai memproyeksi hasil produksi.

Kedengarannya seperti asisten pribadi petani yang nggak pernah capek dan nggak minta THR.

Sementara itu, Ketua DEN, Luhut Binsar Pandjaitan, memastikan kalau sistemnya sebenarnya sudah siap.

Bahkan investor pun, katanya, sudah angkat tangan tanda siap mendukung.

Sistem pertanian berbasis AI itu sudah diterapkan di Taman Sains Teknologi Herbal dan Hortikultura (TSTH) 2, dan tinggal dijahit ke lahan-lahan pertanian masyarakat.

“Istilahnya bukan angan-angan lagi, titik-titiknya sudah dapat tinggal kita ‘jahit’,” ujar Luhut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *