Nasional

‎Riyono Caping Soroti Tata Kelola Beras: Petani Dirugikan, Konsumen Tertipu ‎

585
×

‎Riyono Caping Soroti Tata Kelola Beras: Petani Dirugikan, Konsumen Tertipu ‎

Sebarkan artikel ini
‎Ketua DPP PKS Bidang Petani, Peternak, dan Nelayan yang juga Anggota Komisi IV DPR RI, Riyono Caping(foto: Instagram@riyonocaping)

‎TERITORIAL24.COM, JAKARTA -Ketua DPP PKS Bidang Petani, Peternak, dan Nelayan yang juga Anggota Komisi IV DPR RI, Riyono Caping, angkat bicara soal maraknya peredaran beras oplosan yang merugikan konsumen dan mencederai petani lokal.

‎Riyono menegaskan bahwa negara tidak boleh abai terhadap masalah serius ini.

‎Pernyataan ini disampaikan Riyono menyusul temuan Satgas Pangan terhadap 212 perusahaan.

Yang diduga melakukan praktik pengoplosan beras, dengan total kerugian konsumen mencapai Rp3,2 triliun.

‎“Jika dihitung secara kasar, dengan kerugian Rp5.000 per kilogram, maka total beras oplosan yang beredar bisa mencapai 700.000 ton.”

‎”Padahal, kebutuhan beras nasional per bulan sekitar 2,6 juta ton.”

‎”Artinya, hampir 25 persen beras di pasar diduga adalah beras oplosan,” kata Riyono dalam keterangannya di Jakarta, Senin (14/7/2025).

‎Riyono menyayangkan tindakan curang oknum perusahaan yang menjual beras kualitas rendah dengan label premium.

‎Ia menilai hal tersebut tidak hanya merugikan konsumen, namun juga mencederai semangat dan kerja keras para petani.

‎“Ini sangat merusak.”

‎”Tidak hanya merugikan konsumen, tapi juga menciderai perjuangan petani kita yang telah menghasilkan beras berkualitas tinggi musim ini,” ujarnya.

‎Lebih lanjut, Riyono menyampaikan bahwa beras dari petani lokal sebetulnya sudah memiliki kualitas premium secara alami.

‎“Beras dari petani kita itu enak, cocok dengan lidah masyarakat Indonesia, dan harganya masih sangat terjangkau.”

‎” Mereka pantas mendapat penghargaan atas capaian produksi tahun ini,” ungkapnya.

‎Namun, Riyono menilai lemahnya tata kelola perberasan nasional turut membuka celah terjadinya pengoplosan.

‎Ia mengungkapkan bahwa dari sekitar 2,5 juta ton beras yang beredar di pasaran setiap bulan, hanya sekitar 100 ribu ton atau 5 persen yang dikelola oleh Perum Bulog. Selebihnya, yakni 2,4 juta ton, sepenuhnya dikendalikan oleh swasta.

‎“Kondisi ini sangat rawan penyimpangan, baik dari sisi kualitas hingga potensi penyelundupan.”Negara tidak boleh hanya menjadi penonton.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *