Religi

Harta Melimpah, Jabatan Naik, Dosa Menumpuk: Waspadai Istidraj ‎

55
×

Harta Melimpah, Jabatan Naik, Dosa Menumpuk: Waspadai Istidraj ‎

Sebarkan artikel ini

‎Renungan Surah Ali Imran Ayat 178: Kelapangan dunia bukan ukuran mutlak keridhaan Allah SWT. ‎Oleh: ‎Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A.‎(Penulis Buku Tadabbur Al-Qur'an)

Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A., penulis Buku Tadabbur Al-Qur'an, menyampaikan renungan Surah Ali Imran ayat 178 tentang bahaya istidraj dan pentingnya menyikapi nikmat dunia dengan keimanan serta ketakwaan(Ist)

MEDAN | TERITORIAL24.COM -‎Dalam kehidupan, manusia kerap mengukur keberhasilan melalui harta, jabatan, kesehatan, dan berbagai bentuk kenikmatan duniawi.

Ketika semuanya berjalan lancar, tidak sedikit yang merasa bahwa dirinya telah memperoleh keberuntungan dan berada dalam keadaan yang diridai Allah SWT.

‎Namun, Al-Qur’an mengajarkan bahwa kenikmatan dunia tidak selalu menjadi tanda kemuliaan.

Ada kalanya kelapangan menjadi ujian, bahkan dapat menjadi jalan bertambahnya dosa apabila manusia tidak menyadari hakikatnya.

‎Melalui renungan Surah Ali Imran ayat 178 ini, kita diajak memahami makna istidraj, menelaah hubungan antara nikmat dan pertanggungjawaban, serta membangun kesadaran bahwa setiap keadaan hidup hendaknya menjadi momentum untuk memperbaiki diri.

‎Renungan ini bukan untuk menghakimi keadaan orang lain, melainkan sebagai cermin bagi diri sendiri agar tidak terlena oleh dunia dan senantiasa menjaga hubungan dengan Allah SWT.

‎Firman Allah SWT

‎Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 178:

‎وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِّأَنفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ

‎‎Artinya:

‎“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.”

‎Ayat ini mengandung pesan teologis yang mendalam tentang hakikat kehidupan dunia.

Kekayaan, jabatan, kesehatan, popularitas, dan berbagai bentuk kelapangan hidup tidak dapat dijadikan ukuran mutlak bahwa seseorang berada dalam keridhaan Allah SWT.

‎Dalam perspektif Al-Qur’an, kehidupan dunia merupakan ruang ujian bagi manusia.

Ada yang diuji melalui kesulitan, tetapi tidak sedikit pula yang diuji melalui kemewahan dan keberlimpahan.

‎Persoalannya bukan semata-mata seberapa banyak nikmat yang diterima, melainkan bagaimana manusia menyikapi nikmat tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *