Religi

Harta Melimpah, Jabatan Naik, Dosa Menumpuk: Waspadai Istidraj ‎

57
×

Harta Melimpah, Jabatan Naik, Dosa Menumpuk: Waspadai Istidraj ‎

Sebarkan artikel ini

‎Renungan Surah Ali Imran Ayat 178: Kelapangan dunia bukan ukuran mutlak keridhaan Allah SWT. ‎Oleh: ‎Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A.‎(Penulis Buku Tadabbur Al-Qur'an)

Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A., penulis Buku Tadabbur Al-Qur'an, menyampaikan renungan Surah Ali Imran ayat 178 tentang bahaya istidraj dan pentingnya menyikapi nikmat dunia dengan keimanan serta ketakwaan(Ist)

‎Demikian pula, jangan sampai kelancaran rezeki membuat seseorang mengabaikan kewajiban agama dan tanggung jawab moral.

‎Namun, perlu ditegaskan bahwa tidak setiap orang kaya, sehat, atau memiliki jabatan sedang mengalami istidraj. Tidak pula setiap orang yang ditimpa kesulitan berarti sedang dimurkai Allah.

‎Penilaian terhadap keadaan spiritual seseorang tidak dapat dilakukan secara serampangan. Hakikat keimanan dan akhir perjalanan manusia berada dalam pengetahuan Allah SWT.

‎Ayat ini terutama mengajarkan kewaspadaan terhadap diri sendiri: apakah nikmat yang kita terima semakin memperkuat ketaatan, atau justru menjadi sebab bertambahnya kesombongan dan kemaksiatan?

‎ADZABUN MUHIN: Ancaman Azab yang Menghinakan

‎Allah SWT menutup ayat ini dengan frasa wa lahum ‘adzabun muhin, yang berarti “dan bagi mereka azab yang menghinakan”.

‎Kata muhin mengandung makna kehinaan. Peringatan ini memiliki relevansi yang kuat terhadap manusia yang menjadikan kekayaan dan kekuasaan sebagai dasar untuk merasa lebih mulia daripada orang lain.

‎Dalam kehidupan sosial, kesombongan dapat melahirkan perilaku yang merendahkan martabat sesama manusia.

Kekuasaan yang seharusnya menjadi amanah dapat berubah menjadi alat penindasan.

Kekayaan yang seharusnya menjadi sarana kebaikan dapat berubah menjadi sumber keangkuhan.

‎Al-Qur’an mengingatkan bahwa kemuliaan sejati tidak ditentukan oleh status sosial, harta, ataupun jabatan, melainkan oleh ketakwaan.

‎Oleh sebab itu, setiap amanah harus dipertanggungjawabkan. Setiap kekuasaan harus dijalankan dengan keadilan. Dan setiap nikmat hendaknya menjadi sarana untuk memperbanyak kebaikan.

‎Renungan untuk Kita Hari Ini

‎Surah Ali Imran ayat 178 bukan sekadar menjelaskan keadaan kaum kafir pada masa lalu.

Ayat ini juga menjadi peringatan universal agar manusia senantiasa melakukan introspeksi.

‎Ketika seseorang masih melakukan kemaksiatan, mengabaikan kewajiban, gemar menggunjing, atau menyalahgunakan amanah, tetapi kehidupannya tetap berjalan lancar, ia perlu berhati-hati dalam menafsirkan keadaan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *