Religi

Harta Melimpah, Jabatan Naik, Dosa Menumpuk: Waspadai Istidraj ‎

58
×

Harta Melimpah, Jabatan Naik, Dosa Menumpuk: Waspadai Istidraj ‎

Sebarkan artikel ini

‎Renungan Surah Ali Imran Ayat 178: Kelapangan dunia bukan ukuran mutlak keridhaan Allah SWT. ‎Oleh: ‎Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A.‎(Penulis Buku Tadabbur Al-Qur'an)

Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A., penulis Buku Tadabbur Al-Qur'an, menyampaikan renungan Surah Ali Imran ayat 178 tentang bahaya istidraj dan pentingnya menyikapi nikmat dunia dengan keimanan serta ketakwaan(Ist)

‎Jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa kelancaran rezeki merupakan bukti mutlak bahwa Allah meridai seluruh perilaku kita.

‎Sebaliknya, jangan pula menganggap kesulitan hidup sebagai bukti bahwa Allah telah meninggalkan kita.

‎Ujian dapat hadir dalam bentuk kesempitan, tetapi juga dapat hadir dalam bentuk kelapangan.

‎Pertanyaan mendasar yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri adalah: apakah nikmat yang kita terima menjadikan kita semakin bersyukur? Apakah jabatan membuat kita semakin adil? Apakah kekayaan membuat kita semakin peduli terhadap sesama? Apakah kesehatan menjadikan kita semakin taat?

‎Jika jawabannya justru sebaliknya, maka sudah saatnya kita melakukan evaluasi terhadap kehidupan spiritual dan moral kita.

‎Salah satu keadaan yang patut diwaspadai adalah ketika seseorang terus melakukan kemaksiatan, tetapi tidak lagi merasakan penyesalan. Bahkan, ia merasa bahwa dirinya telah berada dalam kebenaran.

‎Hilangnya kesadaran terhadap kesalahan merupakan persoalan serius dalam kehidupan spiritual.

Sebab, pertobatan hanya mungkin tumbuh ketika seseorang menyadari kekeliruannya.

‎Nikmat yang Mengantarkan kepada Ketaatan

‎Nikmat dan istidraj tidak dapat dibedakan hanya melalui kondisi ekonomi, kesehatan, atau keberhasilan seseorang.

‎Nikmat yang disyukuri semestinya melahirkan ketaatan, kerendahan hati, dan kepedulian.

Sementara itu, kelapangan yang membuat seseorang semakin angkuh dan berani melanggar ketentuan Allah harus menjadi bahan introspeksi.

‎Jangan menjadikan keberhasilan orang lain sebagai alasan untuk iri. Jangan pula menjadikan kesulitan yang dialami sebagai alasan untuk berputus asa.

‎Kita tidak mengetahui secara pasti bagaimana Allah menilai kehidupan setiap manusia.

Karena itu, yang paling utama adalah memperbaiki diri, menjaga amanah, memperbanyak istighfar, dan senantiasa memohon petunjuk-Nya.

‎Harta melimpah bukan jaminan kemuliaan. Jabatan tinggi bukan bukti kesempurnaan. Dan kelapangan hidup bukan alasan untuk merasa aman dari pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *