Bisnis dan Teknologi

Jalan ke Negeri Sakura dari Sumatera Utara

242
×

Jalan ke Negeri Sakura dari Sumatera Utara

Sebarkan artikel ini

Namun ada pula jalur melalui Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Dari 40 LPK terdaftar di Sumut, hanya 11 yang berwenang mengirim peserta ke Jepang. Skema ini berbiaya sekitar Rp42 juta, mencakup pelatihan hingga keberangkatan. Bagi sebagian keluarga kelas menengah ke bawah, angka itu menjadi tantangan tersendiri.

Pemerintah daerah kini menjajaki kemungkinan kredit usaha rakyat melalui Bank Sumut untuk membantu pembiayaan peserta jalur LPK. Skemanya masih digodok agar tak menimbulkan kredit macet.

 

Dari Statistik ke Cerita Sukses

 

Jumlah pengangguran di Sumatera Utara tercatat sekitar 448 ribu orang—turun dari 458 ribu pada 2024.

Pemerintah meyakini program magang ikut berkontribusi pada penurunan itu, meski dampaknya belum sepenuhnya terukur dalam jangka panjang.

Magang ke Jepang berlangsung tiga hingga lima tahun. Harapannya, peserta pulang dengan keterampilan teknis dan etos kerja yang dapat ditularkan di kampung halaman.

Yuliani menyebut ada alumni yang kembali ke Tapanuli Utara dan mengembangkan pertanian cabai bersama kelompok tani setempat.

Cerita-cerita seperti itu menjadi narasi optimistis pemerintah daerah: magang bukan sekadar bekerja di luar negeri, melainkan investasi keterampilan.

 

Pembekalan Sejak Bangku Sekolah

 

Ke depan, Disnaker Sumut bersama Dinas Pendidikan dan LPK berencana menyosialisasikan program ini ke SMA dan SMK. Siswa akan dibekali informasi sejak dini—apa yang perlu dipersiapkan jika ingin magang ke Jepang, dari kemampuan bahasa hingga kesiapan fisik.

Langkah itu menunjukkan pergeseran pendekatan: dari kebijakan reaktif terhadap pengangguran menjadi perencanaan karier lebih awal. Meski demikian, tantangan struktural tetap ada—ketersediaan lapangan kerja lokal, kualitas pendidikan vokasi, hingga keberlanjutan usaha setelah peserta kembali.

Bagi ratusan pemuda Sumut yang kini menatap Negeri Sakura, magang adalah peluang sekaligus pertaruhan.

Pemerintah membuka jalan. Sisanya, ditentukan oleh daya tahan, disiplin, dan seberapa jauh pengalaman di negeri orang dapat diterjemahkan menjadi kemandirian di tanah sendiri.(Anggi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *