Sebab dalam Islam, ukuran kemuliaan kekuasaan bukan terletak pada banyaknya kewenangan, melainkan pada seberapa besar kewenangan tersebut digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan dan keadilan.
Kekuasaan Bukan Kekebalan
Kekuasaan dapat membuat seseorang memiliki kewenangan.
Tetapi kekuasaan tidak pernah membuat seseorang kebal dari pertanggungjawaban.
Hari ini seseorang berada di puncak.
Besok ia bisa turun.
Hari ini seseorang memberikan perintah.
Besok mungkin ia yang menerima perintah.
Hari ini namanya disebut dalam berbagai forum.
Besok namanya mungkin hanya tinggal sejarah.
Karena itu, kekuasaan seharusnya melahirkan rasa takut kepada Allah, bukan kesombongan terhadap manusia.
Semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula amanah yang dipikulnya.
Kursi kekuasaan mungkin memiliki pengawal, tetapi pertanggungjawaban di hadapan Allah tidak memiliki pengawal.
Inilah kesadaran yang harus hidup dalam diri setiap pemimpin.
Jangan Menjadi Penolong Kezaliman
Islam tidak mengajarkan seorang Muslim untuk menjadi bagian dari kezaliman.
Allah SWT berfirman:
«وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ»
”Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.”QS. Hud: 113.
Ayat ini merupakan peringatan agar manusia tidak memberikan dukungan kepada kezaliman.
Rasulullah Saw juga memberikan peringatan tentang bahaya membantu penguasa dalam kebatilan.
Pesannya sangat penting: jangan menjadikan jabatan, pekerjaan, ilmu, kekuasaan, ataupun pengaruh sebagai instrumen untuk memperkuat kezaliman.
Seorang pejabat harus menjaga amanah.
Seorang hakim harus menjaga keadilan.
Seorang aparat harus menjalankan tugas sesuai hukum dan tanggung jawabnya.
Seorang ulama harus menjaga kebenaran.
Seorang intelektual harus menjaga integritas keilmuannya.
Dan seorang jurnalis harus menjaga independensi, keberimbangan, serta tanggung jawab moral dalam menyampaikan informasi.
Setiap profesi memiliki amanah. Dan setiap amanah memiliki konsekuensi.












