Kritik Bukan Kebencian
Masyarakat membutuhkan keberanian untuk mengingatkan ketika terjadi ketidakadilan.
Tetapi keberanian tidak boleh berubah menjadi kebencian.
Kritik tidak boleh berubah menjadi fitnah.
Nasihat tidak boleh berubah menjadi penghinaan.
Perbedaan pendapat tidak boleh berubah menjadi permusuhan.
Islam mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar, tetapi pelaksanaannya juga membutuhkan ilmu, hikmah, keadilan, dan tanggung jawab.
Karena itu, membicarakan Mulkan Jabriyyah bukan berarti setiap ketidakpuasan terhadap penguasa harus diterjemahkan sebagai bukti bahwa kita sedang berada dalam fase tersebut.
Lebih baik kita menjadikan hadist itu sebagai cermin untuk melakukan muhasabah terhadap kekuasaan dan diri sendiri.
Jangan Hanya Menunjuk Penguasa
Ada pertanyaan yang lebih berat daripada menilai penguasa:
Bagaimana dengan diri kita sendiri?
Kita menginginkan pemimpin yang amanah. Apakah kita sendiri sudah amanah?
Kita menginginkan hukum yang adil. Apakah kita sendiri sudah berlaku adil?
Kita menginginkan pejabat yang bersih. Apakah kita sendiri menolak mengambil sesuatu yang bukan hak kita?
Kita menginginkan masyarakat yang jujur. Apakah kita sendiri sudah membiasakan kejujuran?
Perubahan masyarakat tidak mungkin hanya dibebankan kepada orang yang berada di kursi kekuasaan.
Sebab masyarakat juga dibangun oleh keluarga, sekolah, masjid, lembaga pendidikan, organisasi, media, dunia usaha, dan setiap individu.
Perubahan Dimulai dari Diri
Allah SWT berfirman:
«إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ»
”Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”QS. Ar-Ra’d: 11.
Ayat ini memberikan pelajaran penting bahwa perubahan sosial memiliki hubungan erat dengan perubahan manusia.
Jika kita menginginkan masyarakat yang adil, maka kita harus membangun manusia yang mencintai keadilan.
Jika kita menginginkan pemimpin yang amanah, maka kita harus membangun budaya amanah.












