Religi

Kekuasaan Tak Abadi: Pesan Hadist tentang Mulkan Jabriyyah dan Amanah Kekuasaan ‎

156
×

Kekuasaan Tak Abadi: Pesan Hadist tentang Mulkan Jabriyyah dan Amanah Kekuasaan ‎

Sebarkan artikel ini

‎Oleh: Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A.

Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A., mengulas pesan hadist Rasulullah Saw tentang pergantian kekuasaan, Mulkan Jabriyyah, dan pentingnya menjaga amanah(Ist)

‎Jika kita menginginkan pemerintahan yang bersih, maka budaya anti-kecurangan harus dimulai dari kehidupan sehari-hari.

‎Perubahan besar tidak selalu dimulai dari gedung kekuasaan.

‎Terkadang ia dimulai dari hati manusia yang memilih untuk tidak berbuat zalim ketika memiliki kesempatan untuk melakukannya.

‎Dakwah Harus Melahirkan Perbaikan

‎Hadist tentang perjalanan kekuasaan bukanlah alasan untuk berputus asa.

‎Justru sebaliknya.

‎Hadist tersebut mengingatkan bahwa keadaan manusia dapat berubah dan fase kekuasaan tidak berlangsung selamanya.

‎Namun perubahan tidak boleh hanya dipahami sebagai pergantian orang di kursi kekuasaan.

‎Pergantian manusia tanpa perubahan karakter hanya akan mengulang persoalan yang sama.

‎Karena itu, tugas dakwah bukan sekadar mencaci penguasa.

‎Tugas dakwah adalah membangun manusia yang takut kepada Allah ketika memegang kekuasaan dan tetap berani berkata benar ketika tidak memiliki kekuasaan.

‎Dakwah harus melahirkan manusia yang tidak mudah dibeli.

‎Tidak mudah ditakut-takuti.

‎Tidak mudah diprovokasi.

‎Tidak mudah menghakimi.

‎Dan tidak mudah mengorbankan prinsip hanya demi kepentingan sesaat.

‎Kekuasaan Akan Berganti

‎Pada akhirnya, setiap kekuasaan akan sampai pada batasnya.

‎Tidak ada kursi yang kekal.

‎Tidak ada jabatan yang abadi.

‎Tidak ada pemerintahan manusia yang terbebas dari perjalanan waktu.

‎Karena itu, orang yang sedang berkuasa jangan merasa dirinya akan selamanya berada di atas.

‎Dan orang yang sedang berada di luar kekuasaan jangan merasa dirinya akan selamanya berada di bawah.

‎Roda sejarah bergerak. Kekuasaan berganti. Tetapi pertanggungjawaban kepada Allah tetap menanti.

‎Kelak, ketika seluruh jabatan telah dilepas, pangkat telah ditanggalkan, pengawal telah meninggalkan, dan protokol tidak lagi berlaku, manusia akan berdiri sendiri di hadapan Allah SWT.

‎Pada saat itu, yang bernilai bukan lagi seberapa tinggi kedudukan seseorang.

‎Yang akan menentukan adalah apa yang telah diperbuat dengan amanah yang pernah diberikan kepadanya.

‎Maka pesan hadist tentang Mulkan Jabriyyah tidak semestinya membuat kita sibuk menebak siapa penguasa yang dimaksud.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *