Jika kita menginginkan pemerintahan yang bersih, maka budaya anti-kecurangan harus dimulai dari kehidupan sehari-hari.
Perubahan besar tidak selalu dimulai dari gedung kekuasaan.
Terkadang ia dimulai dari hati manusia yang memilih untuk tidak berbuat zalim ketika memiliki kesempatan untuk melakukannya.
Dakwah Harus Melahirkan Perbaikan
Hadist tentang perjalanan kekuasaan bukanlah alasan untuk berputus asa.
Justru sebaliknya.
Hadist tersebut mengingatkan bahwa keadaan manusia dapat berubah dan fase kekuasaan tidak berlangsung selamanya.
Namun perubahan tidak boleh hanya dipahami sebagai pergantian orang di kursi kekuasaan.
Pergantian manusia tanpa perubahan karakter hanya akan mengulang persoalan yang sama.
Karena itu, tugas dakwah bukan sekadar mencaci penguasa.
Tugas dakwah adalah membangun manusia yang takut kepada Allah ketika memegang kekuasaan dan tetap berani berkata benar ketika tidak memiliki kekuasaan.
Dakwah harus melahirkan manusia yang tidak mudah dibeli.
Tidak mudah ditakut-takuti.
Tidak mudah diprovokasi.
Tidak mudah menghakimi.
Dan tidak mudah mengorbankan prinsip hanya demi kepentingan sesaat.
Kekuasaan Akan Berganti
Pada akhirnya, setiap kekuasaan akan sampai pada batasnya.
Tidak ada kursi yang kekal.
Tidak ada jabatan yang abadi.
Tidak ada pemerintahan manusia yang terbebas dari perjalanan waktu.
Karena itu, orang yang sedang berkuasa jangan merasa dirinya akan selamanya berada di atas.
Dan orang yang sedang berada di luar kekuasaan jangan merasa dirinya akan selamanya berada di bawah.
Roda sejarah bergerak. Kekuasaan berganti. Tetapi pertanggungjawaban kepada Allah tetap menanti.
Kelak, ketika seluruh jabatan telah dilepas, pangkat telah ditanggalkan, pengawal telah meninggalkan, dan protokol tidak lagi berlaku, manusia akan berdiri sendiri di hadapan Allah SWT.
Pada saat itu, yang bernilai bukan lagi seberapa tinggi kedudukan seseorang.
Yang akan menentukan adalah apa yang telah diperbuat dengan amanah yang pernah diberikan kepadanya.
Maka pesan hadist tentang Mulkan Jabriyyah tidak semestinya membuat kita sibuk menebak siapa penguasa yang dimaksud.












