Mereka juga menilai pemberitaan tersebut tidak memenuhi prinsip keberimbangan karena tidak pernah dimintai klarifikasi ataupun diberikan kesempatan menggunakan hak jawab sebelum dipublikasikan.
Menurut pihak keluarga, awal mula peristiwa terjadi ketika ibu mereka memasang iklan penjualan Toyota Avanza tahun 2015 melalui Marketplace dengan harga Rp120 juta.
Tidak lama kemudian, seseorang yang mengaku bernama Rahmat menghubungi melalui fitur Marketplace dan meminta nomor WhatsApp untuk melanjutkan komunikasi.
Dalam percakapan tersebut, Rahmat disebut menanyakan lokasi kendaraan, kondisi mobil, serta meminta foto dan video unit yang dijual.
“Pihak kami sama sekali tidak mengenal Rahmat sebelumnya. Komunikasi hanya sebatas terkait rencana penjualan mobil,” demikian isi klarifikasi tersebut.
Selanjutnya, Rahmat mengaku telah memiliki calon pembeli dan mengarahkan orang tersebut untuk datang langsung ke rumah guna melihat kondisi kendaraan.
Mengaku Tidak Curiga
Saat calon pembeli datang, menurut pihak keluarga, yang bersangkutan mengaku mengenal Rahmat, mengetahui tempat Rahmat bekerja, bahkan berencana mendatangi kantornya. Karena itulah, keluarga pemilik mobil mengaku tidak memiliki alasan untuk mencurigai adanya dugaan penipuan.
Calon pembeli disebut datang bersama seorang pria yang diperkenalkan sebagai pamannya. Keduanya kemudian memeriksa kondisi kendaraan beserta dokumen-dokumen mobil.
Pihak keluarga juga mengungkap adanya sejumlah hal yang dianggap janggal.
Salah satunya, sebelum transaksi dinyatakan selesai, calon pembeli meminta agar bagian bagasi dan kursi belakang mobil dibongkar untuk memasukkan sepeda motor yang mereka bawa ke dalam bagasi kendaraan.
“Menurut kami, permintaan tersebut cukup aneh karena belum ada kepastian transaksi,” tulis mereka.
Selain itu, calon pembeli juga disebut merekam video ibu pemilik mobil.
Dalam rekaman tersebut, calon pembeli menyampaikan bahwa pembayaran akan ditransfer kepada Rahmat dan menanyakan apakah setelah pembayaran dilakukan mobil menjadi miliknya.












