Berita Utama

Dayang Nan Tujuh Menggetarkan Gedung Kesenian Jakarta, Sakralitas Melayu Deli Naik ke Panggung Nasional

93
×

Dayang Nan Tujuh Menggetarkan Gedung Kesenian Jakarta, Sakralitas Melayu Deli Naik ke Panggung Nasional

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, JAKARTA – Seni dan budaya Melayu Deli menunjukkan pesonanya di panggung nasional. Pertunjukan “Dayang Nan Tujuh” yang dibawakan sanggar binaan Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan, tampil memukau dalam Festival Bedhayan VI 2026 di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu (8/8/2026).

Di tengah festival yang menghadirkan sedikitnya 16 pertunjukan dengan tema “Memayu Hayuning Bawana”, “Dayang Nan Tujuh” tampil membawa warna berbeda.

Jika sebagian besar karya mengedepankan corak dan filosofi Jawa, pertunjukan dari Medan tersebut justru membuka ruang bagi penonton untuk menyelami kekayaan Melayu Deli.

Bukan sekadar tari, “Dayang Nan Tujuh” menghadirkan perpaduan gerak, musik, busana, sinandong, properti tradisi dan atmosfer ritus yang mengangkat kembali ingatan tentang kebudayaan Melayu Deli.

Begitu pertunjukan berakhir, suasana Gedung Kesenian Jakarta yang sebelumnya hening pecah oleh tepuk tangan panjang dan bergemuruh.

 

Menghidupkan Kembali Kosmologi Melayu Deli

 

“Dayang Nan Tujuh” menempatkan tujuh anak dara Melayu sebagai sosok dayang yang berkaitan dengan gambaran petala langit dalam pemahaman Melayu klasik sekaligus penjuru bumi dalam anasir kosmologi Melayu.

Konsep tersebut membawa penonton memasuki pemahaman tradisi Melayu tentang hubungan manusia dengan alam dan jagat raya.

Dalam kisah tradisional yang menjadi pijakan karya, tujuh dayang tersebut bahkan digambarkan akan menjadi delapan dengan hadirnya unsur dari alam halus.

Konsep itu bukan sekadar simbol dalam pertunjukan. Ia menjadi pintu masuk untuk membaca cara masyarakat Melayu masa lalu memandang keseimbangan antara manusia, alam dan dunia kosmologis.

Dimensi sakral tersebut diperkuat dengan penggunaan sejumlah properti tradisi seperti sirih dan setanggi.

Tujuh penari tampil sebagai anak dara Melayu mengenakan kebaya labuh dan sanggul Melayu. Busana tersebut tidak hanya menjadi ornamen visual, tetapi juga memperkuat identitas perempuan Melayu dalam ruang seni tradisi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *