Sinandong Dedeng, Suara Lama yang Kembali Bergema
Salah satu kekuatan utama “Dayang Nan Tujuh” terletak pada sinandong dedeng Deli yang disusun dalam tujuh bait.
Alunan sinandong dengan gaya lama berpadu dengan berbagai instrumen musik tradisional Melayu, seperti gendang dua muka, pakpung, dol, ketipung, canang, serunai, bangsi, arbab dan gong.
Bunyi-bunyian tersebut tidak sekadar menjadi pengiring gerak tari. Musik justru menjadi bagian penting dalam membangun atmosfer pertunjukan.
Suara sinandong, denting canang, tiupan serunai dan pukulan gendang membawa penonton pada suasana Melayu Deli yang terasa jauh dari hiruk-pikuk pertunjukan modern.
Di titik inilah “Dayang Nan Tujuh” terasa lebih dari sekadar tontonan.
Ia menjadi semacam perjalanan artistik menuju ruang ingatan Melayu Deli—sebuah ruang yang mempertemukan manusia, alam, tradisi dan kepercayaan leluhur.

Ketika Tari Melayu Tidak Sekadar Hiburan
Pertunjukan “Dayang Nan Tujuh” dipimpin M. Muhar Omtatok, yang juga menjadi narasumber sekaligus penulis sinandong.
Tata tari dipercayakan kepada Mateus Suwarsono, sedangkan tata musik digarap Zumaidi Abdullah.
Dukungan Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan diberikan sejak tahap persiapan hingga pertunjukan berlangsung.
Yang menarik, respons terhadap karya tersebut tidak berhenti pada tepuk tangan penonton.
Seusai pertunjukan, sejumlah pelaku dan pemerhati seni turut membicarakan dimensi artistik yang ditawarkan “Dayang Nan Tujuh”.
Karya tersebut dinilai menghadirkan sesuatu yang mulai jarang ditemukan dalam pertunjukan Melayu kontemporer, yakni dimensi sakral yang dibangun secara utuh melalui gerak, musik, simbol, busana dan suasana pertunjukan.
Selama ini tari Melayu kerap hadir dalam ruang pertunjukan sebagai hiburan.












