Melayu Deli pun memiliki ruang untuk berbicara.
Bukan dengan suara yang keras, melainkan melalui kelembutan gerak, lantunan sinandong, bunyi alat musik tradisional, busana perempuan Melayu dan simbol-simbol yang diwariskan dari masa lalu.
Dari Medan, Menjaga Melayu Tetap Bernyawa
“Dayang Nan Tujuh” pada akhirnya bukan hanya pertunjukan seni dari Medan.
Ia menjadi sebuah pernyataan kebudayaan bahwa Melayu Deli masih memiliki kekuatan untuk hadir di panggung nasional.
Tradisi tidak harus dipajang sebagai benda masa lalu. Ia dapat dihidupkan kembali melalui karya seni yang mampu berbicara kepada generasi hari ini.
Gedung Kesenian Jakarta pada malam itu menjadi saksi bagaimana kekayaan Melayu Deli dibawa dari Medan menuju ruang kebudayaan yang lebih luas.
Tepuk tangan panjang yang menggema setelah pertunjukan seakan menjadi penanda bahwa ketika sebuah tradisi digali dari akar terdalamnya, ia bukan hanya mampu bertahan.
Dari Deli, Melayu berbicara. Dari panggung seni, warisan budaya kembali bernyawa.(Akbar)












