Berita Utama

Dayang Nan Tujuh Menggetarkan Gedung Kesenian Jakarta, Sakralitas Melayu Deli Naik ke Panggung Nasional

96
×

Dayang Nan Tujuh Menggetarkan Gedung Kesenian Jakarta, Sakralitas Melayu Deli Naik ke Panggung Nasional

Sebarkan artikel ini

“Dayang Nan Tujuh” menawarkan perspektif berbeda.

Tari dapat menjadi medium untuk membaca kembali hubungan manusia dengan alam, leluhur dan ruang kosmologis yang hidup dalam ingatan budaya masyarakat Melayu.

 

Elly D. Luthan: Saya Dibawa ke Alam Deli Berabad Lalu

 

Kesan mendalam juga disampaikan koreografer senior Elly D. Luthan, yang hadir menyaksikan pertunjukan tersebut.

Elly bahkan tak mampu menyembunyikan emosinya ketika menyaksikan rangkaian pertunjukan, terutama saat sinandong dilantunkan.

“Saya menemukan sakralitas tari Melayu yang benar-benar matang dalam Dayang Nan Tujuh. Saat sinandong itu, saya tidak bisa menahan tangis. Saya dibawa ke alam Deli beberapa abad lalu. Saya kagum atas pertunjukan ini.”

 

Ungkapan tersebut menggambarkan kekuatan utama karya “Dayang Nan Tujuh”.

 

Kekuatan pertunjukan bukan hanya pada koreografi yang indah atau musik tradisional yang dimainkan. Lebih dari itu, karya tersebut berhasil membangun atmosfer kebudayaan.

Penonton seolah tidak hanya melihat tari, tetapi diajak memasuki kembali sebuah ruang ingatan kolektif tentang Melayu Deli.

Walikota Medan Rico Waas menghadiri Festival Bedhayan VI 2026 di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu (8/8/2026).

Melayu Deli Berbicara di Tengah Kebudayaan Nusantara

 

Kehadiran “Dayang Nan Tujuh” di Festival Bedhayan VI 2026 menjadi penting dalam konteks keberagaman seni tradisi Indonesia.

Pertunjukan tersebut membuktikan bahwa tradisi lokal dapat hadir dan berdialog dengan tradisi Nusantara lainnya tanpa harus kehilangan identitas.

Di tengah dominasi nuansa kosmologi Jawa dalam festival, “Dayang Nan Tujuh” datang membawa kosmologi Melayu Deli dengan karakter, simbol dan bahasa artistiknya sendiri.

 

Perbedaan itu tidak menjadi sekat.

 

Sebaliknya, ia memperlihatkan bahwa Indonesia dibangun dari begitu banyak pengetahuan tradisional yang memiliki cara masing-masing dalam memahami manusia, alam dan semesta.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *