PENDAHULUAN
1.1 Analisis Situasi
Di era globalisasi dan digitalisasi saat ini, tantangan pendidikan tidak hanya terletak pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik.
Sekolah dasar sebagai jenjang pendidikan awal memiliki peran vital dalam menanamkan nilai-nilai dasar kehidupan, seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.
Pendidikan karakter pun menjadi landasan penting dalam Kurikulum Merdeka yang mendorong pembelajaran kontekstual dan partisipatif.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa peran guru dalam pendidikan karakter seringkali belum optimal.
Guru masih cenderung menggunakan pendekatan konvensional yang berpusat pada ceramah dan hafalan, terutama dalam mata pelajaran PPKn.
Di sisi lain, potensi teknologi digital yang bisa memperkuat pembelajaran kontekstual dan menarik bagi siswa belum dimanfaatkan secara maksimal. Media ajar digital yang berbasis pada lingkungan sekolah—yang seharusnya dekat dan relevan dengan kehidupan siswa—belum banyak dikembangkan atau digunakan secara efektif.
Kendala utama yang dihadapi guru antara lain rendahnya literasi digital, kurangnya pelatihan pengembangan media ajar, keterbatasan sarana teknologi di sekolah, dan minimnya dukungan dari pihak manajemen sekolah maupun dinas pendidikan. Selain itu, guru juga sering mengalami beban kerja administratif yang tinggi, sehingga waktu untuk merancang media ajar inovatif menjadi sangat terbatas.
Meski demikian, peluang untuk meningkatkan peran guru melalui digitalisasi sangat terbuka. Semakin banyak platform digital dan aplikasi edukatif yang dapat dimanfaatkan untuk membuat media ajar yang menarik dan interaktif.
Lingkungan sekolah juga memiliki banyak potensi sebagai sumber belajar, misalnya dengan mengangkat tema gotong royong di halaman sekolah, kebersihan lingkungan, atau kegiatan upacara bendera sebagai materi pembelajaran karakter.
Melalui pelatihan yang tepat, dukungan kebijakan, dan semangat kolaboratif, guru dapat menjadi agen utama perubahan dalam mewujudkan pembelajaran karakter yang lebih bermakna, kontekstual, dan berbasis digital.












